![]() |
| Rahmat W. Hidayat, A.Md, CH, CPS, CMPS |
KUPAS24JAM - SETIAP tanggal 18 November, Indonesia memperingati Hari Sawit Nasional—sebuah penanda sejarah panjang komoditas kelapa sawit yang telah tumbuh menjadi salah satu pilar ekonomi nasional. Tanggal tersebut merujuk pada penanaman kelapa sawit secara komersial pertama di Tanah Air pada akhir abad ke-19, yang kemudian berkembang menjadi industri strategis dengan jutaan tenaga kerja.
Kelapa sawit kini menjadi salah satu komoditas perkebunan paling penting di Indonesia. Produksi minyak sawit mentah (CPO) menopang ekspor nonmigas dan menggerakkan aktivitas ekonomi di berbagai daerah, dari Sumatra hingga Kalimantan. Industri sawit juga berperan dalam rantai pasok pangan (cooking oil), kosmetik, farmasi, hingga bahan bakar nabati (biofuel).
Namun, perjalanan sawit tidak lepas dari tantangan. Kritik terhadap isu deforestasi, keberlanjutan, dan tata kelola lahan menjadi sorotan global dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah dan pelaku industri kini didorong untuk memperbaiki standar keberlanjutan melalui sertifikasi ISPO, pola kemitraan petani, peningkatan produktivitas kebun rakyat, serta penguatan regulasi lingkungan.
Rahmat W. Hidayat, A.Md, CH, CPS, CMPS yang merupakan petani sawit dan juga pengurus sawit kepada media ini, Selasa (18/11/25) menyampaikan harapannya.
"Pertama saya mengucapkan selamat hari sawit nasional untuk seluruh petani sawit yang ada di Indonesia terkhusus di Kabupaten Bengkalis. Semoga Petani Sawit tidak dijadikan bola dan bahan permainan bagi para pecundang Sawit, " Jelas laki-laki yang juga merupakan mantan wartawan ini.
Disaat yang sama, dirinya juga berharap, agar petani sawit yang ada tidak dijadikan komoditas politik segelintir pihak demi kepentingan politik mereka. "Jangan jadikan Sawit dan Petani Sawit sebagai komoditas politik semata,"pungkas pria yang akrab disapa Bunk Dayat ini.
Hari Sawit Nasional menjadi momen refleksi untuk menyeimbangkan manfaat ekonomi dan tanggung jawab ekologis. Di satu sisi, sawit telah mengangkat kesejahteraan banyak daerah, termasuk di Kalimantan Timur yang menempatkan perkebunan sawit sebagai salah satu sektor andalan. Di sisi lain, pengelolaan yang tidak tepat dapat meninggalkan dampak lingkungan jangka panjang. (BN).

Komentar