Baju koko memiliki sejarah panjang yang berawal dari pakaian tradisional Tionghoa bernama Tui-Khim, yang dibawa pedagang Tionghoa ke Nusantara dan diadopsi masyarakat lokal. Nama "koko" berasal dari sebutan "engko-engko" (kakak laki-laki Tionghoa) yang kemudian berubah lafal. Baju ini dimodifikasi dan diserap komunitas Muslim, menjadi busana ibadah dan sehari-hari yang sopan, nyaman, dan identik dengan pria Muslim Indonesia.
Asal-Usul & Adaptasi:
- Pakaian Tionghoa (Tui-Khim): Baju ini awalnya adalah kemeja sederhana khas pria Tionghoa yang dibawa ke Indonesia sejak zaman kerajaan hingga kolonial.
- Interaksi Budaya: Pedagang Tionghoa berinteraksi erat dengan penduduk lokal, termasuk komunitas Muslim, dan pakaian mereka mulai dikenal.
- Modifikasi: Baju Tui-Khim dimodifikasi agar sesuai dengan nilai-nilai Islam, seperti model yang lebih tertutup dan sopan.
- Munculnya Nama "Koko": Masyarakat pribumi menyebut pakaian ini "baju engko-engko" (pakaian kakak laki-laki), yang kemudian menjadi "baju koko".
Perkembangan Menjadi Pakaian Muslim:
Kenyamanan: Modelnya yang longgar, tertutup, dan bahan yang nyaman menjadikannya cocok untuk ibadah.
Adopsi Luas: Masyarakat Betawi mengadopsinya, lalu diadopsi komunitas Muslim sebagai busana keagamaan dan kegiatan sehari-hari.
Simbol Identitas: Baju koko kini identik dengan identitas pria Muslim di Indonesia, sering dipakai saat salat, hari raya, atau acara formal lainnya.
Fakta Tambahan:
Beberapa sejarawan mengaitkan evolusi baju koko dengan baju adat Jawa, Surjan, yang juga dimodifikasi Sunan Kalijaga menjadi "baju takwa" dengan filosofi simbol agama, seperti kancing yang melambangkan rukun Islam dan rukun Iman, namun pengaruh Tionghoa tetap menjadi akar utamanya.

Komentar